Personal

Memperkuat Tim (Nasional) Sepak Bola Indonesia

“Bapak-bapak, hari minggu besok kita akan mulai lagi latihan bola seperti sebelumnya. Ditunggu kedatangannnya di James Oval, UWA (University of Western Australia)”. Begitulah kira-kira bunyi sms di hape butut saya 5 minggu yang lalu dari Pak Budi Susila, mahasiswa Phd Curtin University.

Ya, sebelum puasa beberapa bulan silam, saya dan beberapa orang mahasiswa Indonesia yang mengambil Master maupun Phd Degree di beberapa univeristas di Western Australia memang rutin maen bola. Emang sih ini sekedar buat nyari keringet dan having fun aja dan itung-itung nambah kenalan sesama orang Indonesia di rantau. Asyik, setelah break puasa dan lebaran akhirnya acara maen bola minggu pagi dilanjutkan lagi, pikir saya.

Di Latihan pertama beberapa minggu lalu ternyata yang gabung maen kali ini lumayan banyak. Banyak wajah-wajah baru yang sebelumnya belum pernah ikut maen pun datang. Bagus lah, saking banyaknya yang datang latihan, malah bisa dibuat 2 tim. Yang rada mengherankan maen bola kali ini kok lumayan serius dibanding sebelumnya ya.

Eh, usut punya usut, ternyata tim ini akan disiapkan untuk melawan tim dari Malaysia. Alamak!! pikir saya. Jujur aja saya udah gak punya nafas kalo disuruh maen bola beneran (maksudnya 2×45 menit dan lapangan besar).

Minggu-minggu berikutnya kami berlatih makin serius. Pemain inti dan cadangannya beserta posisi-posisinya sudah ditentukan. “Ini demi merah putih dan rendang yang sudah dicaplok Malaysia, kawan” begitu salah satu dari kami berteriak penuh Chemungudz (pinjem bahasa koplak ABG alay sekarang). Tidak hanya pemain, kita juga memilih manager tim yang akan mengurus semuanya termasuk sewa lapangan, persiapan kostum dan berkoordinasi dengan tim lawan. “Siapkan diri baik-baik buat minggu depan, kawan. Jangan sampe nggak dateng!!”. Begitu pesan manager di hari minggu terakhir latihan sebelum pertandingan sebenarnya.

Hari H….Dari kemaren liat perakiraan cuaca tampaknya tidak bersahabat. Bureau of Meteorology memperingatkan kalo hari ini Perth dan sekitanya akan ada thunderstorm dan hail kecil (hujan es tp bukan salju). Setelah agak berdebar-debar menunggu cuaca, akhirnya jam 14.00 cuaca lumayan cerah meskipun di beberapa tempat mendung tebal masih menggantung. Berangkatlah saya dengan 3 orang supporter setia (anak-anak dan istri tentunya).

Pertandingan dijadwalkan mulai jam 15.30, tapi 1 jam sebelumnya ketika saya sampai di stadion tempat pertandingan, sudah banyak pemain Indonesia dan para WAGs (Wife and Girlfriends…minjem istilah timnas Inggris neehh) yang berkumpul disana.

Setalah sesi pemanasan dan foto-foto, akhirnya pertandingan pun dilaksanakan dengan dipimpin wasit dari negara netral (Nggak jelas wasit dari antah berantah, pokoknya bayar $50 buat 2x45menit). Berhubung saya adalah pemain cadangan, maka menyaksikan dulu di pinggir lapangan sampai ada yang gempor dan menjelang pingsan baru dilakukan pergantian pemain. Awal babak pertama pertandingan berjalan seimbang, meski diakui skill pemain Malaysia lebih ok sih. Menjelang pertengahan babak pertama gol demi gol mulai bersarang ke gawang tim Indonesia. Babak pertama ditutup dengan skor 3-1 untuk Malaysia.

Jeda turun minum, manager timnas Indonesia, Pak Eddy memberikan instruksi dan semangat supaya minimal nggak tambah telak lah. Makin malu ntar kita jadinya ama tetangga kita itu.

Babak kedua pertandingan bener-bener seimbang dan saling baku serang. Akhirnya pada menit 60 saya diijinkan masuk lapangan menggantikan pemain di posisi sayap kanan. Setelah jingkrak-jingkrak pemanasan ala pemain pro, masuklah saya ke lapangan. Udah, gak ada yg perlu di highlight dari penampilan saya kali ini. Yang penting kan kringetan (ngeles he..he..he..he..).  Cukup hanya sekitar 15 menit masuk lapangan, akhirnya saya harus ikhlas menyerah oleh keadaan fisik yang ngo-ngosan. Saya pun minta diganti pemain lain..Oh ya, untuk pertandingan kali ini sudah disepakati bahwa pergantian pemain tak terbatas, jadi ya nggak soal kalo saya keluar lagi. Pertandingan pun berakhir dengan kedudukan 4-2 untuk Malaysia.

Setelah pertandingan, diantara hela nafas yang ngos-ngosan saya sejenak berpikir. Bermain di tim nasional sebuah negara itu bukan pekerjaan yang gampang didapat. Mereka adalah putra-putra terbaik di posisi masing2 dan harus mempunyai mental yang kuat. Bukan cuma soal mental menghadapi pertandingan, tapi juga mental tangguh yang siap dicaci maki atau disalahkan oleh supporter fanatik jika timnya kalah. Sepak bola di negara kita yang adalah olahraga rakyat, kini tim nasionalnya tengah carut marut akibat dualisme kepimimpinan. Persiapan pemain untuk membela timnas guna piala AFF pun dipersulit oleh kubu sebelah. Kita hanya bisa berharap jika timnas Indonesia mampu memberikan yang terbaik buat bangsa di piala AFF. Syukur-syukur bisa jadi juara dan mampu membalas kekalahan kami atas Malaysia di pertandingan ini. Semoga….

Advertisements
Categories: Personal | Leave a comment

Blog at WordPress.com.